Hari
Ini
  • 1904Catatan sejarah singkat pertama untuk tanggal ini.
  • 1934Tokoh, peristiwa, atau arsip penting bisa ditulis di sini.
  • 1946Gunakan widget HTML ini untuk memperbarui daftar manual.
advertisement
Blog Kita
Semua Hal Menarik yang ada disekitar kamu

Metodologi Penafsiran Al-quran



Al quran memuat wahyu Allah (firman Tuhan), maka untuk dapat dipahami dengan baik dan benar perlu penjelasan melalui penafsiran. Penafsiran adalah proses, perbuatan menafsirkan. Dengan kata lain, penafsiran adalah upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yang kurang jelas. Hasilanya adalah tafsir. Dalam hubungan dengan pembicaraan kita ini yang dimaksud adalah tafsir Al-quran . penafsiran Al-quran dialukan dengan mempergunakan berbagai metode. Diantaranya , (disebut dalam uraian singkat ), adalah

1  Metode ma’tsur
Metode ini merupakan metode yang mempergunakan riwayat (cerita turun temurun atau sejarah) untuk menjelaskan tentang ayat-ayat  Al-quran. Generasi awal dahulu mempergunakan metode ini dalam penafsiran Al-quran. Sebabnya karena, selain mereka masih dekat dengan generasi para sahabat, juga perubahan social dan perkembangan ilmu masih belum sepesat sekarang.
2  Metode penalaran.
Metode ini terdiri atas beberapa metode , diantaranya , yang di singgung di sini adalah

a.       Metode tahlili (analisis)
Metode tahlil adalah metode yang penafsiran nya berusaha menhanalisis kandungan ayat-ayat Al-quran dengan melihatnya dari berbagai segi. Penafsiran yang mempergunakan metode ini dalam pendekatannya mengikuti runtutan (untaian) ayat-ayat sebagaimana tercantum dalam mushaf (lembaran-lembara) kitab suci itu. Walaupun dinilai sangat luas , namun, menurut para ahli, dengan mempergunakan metode ini satu pokok bahasan (sering) tidak selesai dijelaskan. Sebabnya, karena kelanjutan pokok bahasan ada pada ayat lain. Selain itu sifatnya juga amat  teoritis , tidak mengacu pada persoalan-persoalan khusus yang ada dalam masyarakat. Akibatnya, timbullah kesan bahwa uraian yang teoritis dan umum itulah pendapat atau pandangan Al-quran untuk setiap waktu dan tempat (M. Quraish Shihab,1992: 83-87)

b.      Metode maudu’I ( tematik)
Adalah metode penafsiaran Al-quran menurut tema (pokok judul) tertentu, misalnya manusia , masyarakat , umat, Agama, ilmu dan teknologi . karena itu metode maudu’I, disebut juga metode tematik. Dalam perkembangannya metode tematik ini terdiri atas dua bentuk.
  • Bentuk pertama menjelaskan pokok bahasan atau tema tertentu yang terdapat dalam ayat-ayat yang terangkum dalam satu surat saja. Misalnya tema ayat-ayat dalam surat al Baqarah atau ali Imran  atau An nisa dan sebagainya.
  • Bentuk kedua menjelaskan pokok bahasa dalam seluruh ayat Al-quran , tidak lagi terbatas pada ayat dalam satu surat saja.

Oleh karena itu mufasir atau penafsir yang mempergunakan metode tematik dituntut memahami ayat demi ayat yang berkaitan dengan judul bahasannya secara baik dan benar. Mufasir yang mempergunakan metode ini tidak dapat mengabaikan (sama sekali) metode tahlitit tersebut di atas. Profesor Al-Farmawi, seperti dikutip M Quraish Shihab (1992:114) mengemukakan langkah-langkah dalam menerapkan metode maudu’I atau metode tematik ata (disebut juga) metode tauhidi (kesatuan) itu



Ali Mohammad Daud, 1998, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Post a Comment